Bob Marley the Wailers Could You Be Loved Live

Tampilkan postingan dengan label News Reggae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News Reggae. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Legenda Reggae Leonard Winston Dillon Meninggal Dunia

Jamaika, Seruu.com - Rabu (3/11/2011), Leonard Dillon meninggal dunia tepat dirumahnya Port Antonio, Jamaika yang juga merupakan tanah kelahirannya. Ia meninggalkan seorang istri Sylvia, tujuh orang anak dan enam orang cucu. Berdasarkan keterangan dari putrinya Patrice Dillon, Leonard meninggal  dikarenakan penyakit kanker yang dideritanya selama ini.
Leonard Winston Dillon (68) merupakan sumber inspirasi bagi musisi Jamaika. Beliau adalahseorang penyanyi dan pencipta lagu pada kelompok vokal  pertama di Jamaika yaitu The Ethiopians. Harus diakui bahwa Leonard yang terlahir pada tanggal 9 Desember 1942 di Port Antonio ini merupakan seorang musisi yang handal serta kritis dalam menanggapi situasi kehidupan sosial yang terjadi di Jamaika dan ia juga merupakan seorang agamawan.
Jauh sebelum Bob Marley dan Peter Tosh memainkan musik Reggae dan meneriakkan protes sosial dan spiritual di dalam lirik-lirik lagunya ia telah tampil bernyanyi dengan karya-karyanya yang berisikan tentang hal-hal tersebut.
Mr. Dillon begitulah panggilan akrabnya merupakan seorang pencipta lagu yang berhasil mengkolaborasikan musik tradisional Afrika dengan berbagai musik yang sedang bertumbuh kembang di Jamaika saat itu, dengan lirik protes yang pedas. Bahkan tubuhnya merupakan cermin dari perkembangan musik di Jamaika, dari mulai Mento Flavored, Folk Songs, menggunakan Horn sebagai ritme cepat irama dansa musik Ska di tahun 1960-an, Rock Steady yang halus hingga peralihan bunyi betotan Bass yang terdengar tebal dengan ketukan yang santai yang kini dikenal dengan Reggae.
Suatu saat Peter Tosh yang akrab dengannya, mengajak Mr. Dillon untuk hadir di Studio One, Kingston yang merupakan studio musik pertama yang pemiliknya berkulit hitam di Jamaika. Tosh memperkenalkannya dengan Bob Marley dan Bunny Wailers, serta grup musik yang baru dibentuk. Tosh meminta bantuannya untuk ikut mengaransemen karya-karya dari The Wailers. Dikarenakan Mr. Dillon telah lebih dahulu dan juga berpengalaman dalam aransemen dan rekaman.
Mr. Dillon membentuk aransemen trio vokal dan sekaligus ikut berpartisipasi mengisi suara latar pada lagu-lagu The Wailers, bersama Stephen Taylor dan Aston Morris. Trio vokal tersebut diberinya nama The Ethiopians, dikarenakan terbentuknya tepat pada tahun 1966 berbarengan dengan datangnya Raja Ethiopia Haile Selassie I di Jamaika untuk pertama kalinya.
Setelah Morris mengundurkan diri, Mr. Dillon dan Mr. Taylor melanjutkannya dengan membentuk duo vokal dan berhasil merekam beberapa tembang yang menjadi hits pada tahun 1960-an. Di antaranya berjudul Everything Crash, The Whip dan Train to Skaville yang menjadi hits di Inggris. Tahun 1975, Mr. Taylor meninggal dunia. Namun semangat Dillon tak padam, ia tetap berkarya dengan tetap menggunakan nama The Ethiopians dan kembali menghasilkan dua tembang hits berjudul Burning Spears dan Culture.
Dengan tetap mempertahankan irama musik tradisional Jamaika yang dikolaborasikan dengan genre musik lainnya, Mr. Dillon terus berkarya hingga album terakhirnya pada tahun 2009 yang bertajuk Original Hits Maker From Jamaica.
Selamat Jalan Mr. Dillon, karya-karyamu yang fantastis itu akan tetap menjadi sumber inspirasi, dikenang dan membahana di belantika musik Reggae dunia. [jamaicaobserver/a.h.khalidi]

Sumber : InfoReggaeIndonesia

Minggu, 30 Oktober 2011

Justin Bieber dengan Nuansa Reggaenya

lalu Justin Bieber resmi merilis 'Mistletoe', single perdana untuk album Natal miliknya. Hujan salju pun terus turun dalam video klip lagu tersebut.

Video klip 'Mistletoe' diunduh di situs berbagi video YouTube pada 18 Oktober 2011. Hingga kini jumlah penonton video tersebut baru sekitar seratus ribu.

Dalam video klip tersebut diperlihatkan bagaimana Justin memberi kejutan kepada seorang perempuan yang ia cintai. Di akhir lagu, keduanya berciuman tepat di bawah daun mistletoe. Salah satu adat pada waktu Natal, pria dan perempuan yang bertemu di bawah daun mistletoe harus berciuman.

Nuansa musik reggae bisa terdengar jelas dalam lagu tersebut. Justin mengandalkan gitar akustik untuk mengemas lagu barunya. Suasana santai pun tercipta, namun sekilas lagu tersebut punya nuansa yang sama dengan 'I'm Yours' milik Jason Mraz.

Album Natal Justin yang bertajuk 'Under the Mistletoe' akan dirilis pada 1 November mendatang. Ada 12 lagu di dalamnya. Beberapa musisi pun diajak berkolaborasi dengannya seperti Usher, Boyz II Men, Mariah Carey juga Busta Rhymes.

Label memutuskan untuk menyumbangkan semua keuntungan penjualan album tersebut demi kegiatan amal seperti Pencils of Promise dan Make-A-Wish Foundation.
Sumber : InfoReggaeIndonesia

Melihat Sisi lain dari sang legenda BOB MARLEY

Selama 1975 dan 1976, wartawan foto terkenal Kim Gottlieb-Walker dan suaminya, Kepala Publisitas di Island Records Jeff Walker, mendokumentasikan apa yang sekarang secara luas diakui sebagai zaman keemasan reggae. Kim mengambil foto ikon para seniman dan produser yang akan selanjutnya ternyata berhasil mendefinisikan sebuah era dan memikat generasi.
Untuk merayakan ulang tahun ke 30 kematian Bob Marley Mei ini, Proud Galeri telah bekerja dengan Kim Gottlieb-Walker membuat sebuah pameran potret jujur ??dan intim, termasuk menampilkan foto yang belum pernah terlihat dan dipublikasikan, dari salah satu momen paling menarik dalam sejarah musik baru-baru ini dengan kehangatan dan keakraban lahir dari rasa hormat antara seniman dan fotografer.
Selama karirnya yang panjang, Kim Gottllieb-Walker telah mendokumentasikan banyak tokoh budaya paling terkenal dan penting dari 5 dekade terakhir, dari Jimi Hendrix , Bob Marley hingga Clint Eastwood, Woody Allen dan John Carpenter.Kim melihat dirinya sebagai " kebalikan dari paparazzi ":
"Daripada 'mengambil' foto, proses adalah salah satu dari memberi.Subjek mempercayakan dirinya kepada saya dan sebagai imbalannya, saya menghormati privasi mereka dan kepekaan mereka dan melakukan yang terbaik untuk menangkap mereka di saat yang paling indah dan bertindak ekspresif dengan mereka-yang saling memberi. Di set, aku melihat diriku sebagai 'malaikat rekaman' yang ada di sana untuk mendokumentasikan apa yang terjadi untuk meberi generasi-sejarawan sisi lain dari seorang seniman-dan menangkap momen berharga untuk dilestarikan. "
Pameran Bob Marley dan The Golden Age of Reggae berlangsung dari 7 April - 15 Mei di Galeri Bangga, London. sementara buku fotografi Kim Gottllieb Bob Marley dan The Golden Age of Reggae juga sudah bisa didapatkan di toko buku

Rabu, 12 Oktober 2011

Tippa Irie

Tippa Irie
Tippa Irie (born Anthony Henry, 1965 London) is one of the UK’s most acclaimed foundation dancehall mcs. He first came to prominence on the legendary Saxon Sound system in the early 80s and crossed over into the pop charts with the hit single Hello Darling in 1986. Since then he has collaborated with international stars from the worlds of reggae, hip hop, pop and R&B. Angus Taylor spoke to him while he was resting his leg following an accident on stage in the summer of 2009.
Your dad had a sound. Were you always going to be in music or did you ever consider another line of work?
Necessity makes you consider another line of work! (LAUGHS) When I left school I was doing building work. I did plastering for about two years, mixing cement, doing labouring. My mum got me that job: Friday I left school, Monday I was mixing cement. I did that for two years and then I made my first tune and then I started to make progress on Saxon and sounds and that so I said, “this is for me. This is the path I wanna take”. So when I became a musician full time I couldn’t see myself doing nothing else. This is my destiny.

And who was your biggest musical influence at that time?
I’d have to say U Roy because he was the first deejay. And then I used to listen to Brigadier Jerry and people like Josey Wales, Charlie Chaplin, I used to like them guys when I was younger. People like Papa San, Professor Nuts, Lieutenant Stitchie, all those guys kind of came from my era. Then later on the humour of Yellowman and people that. But, then, I inspired those people just like they inspired me. So it was a good thing because I’ve seen those guys chat my lyrics and listened to them chat lyrics that I wrote. That’s a blessing when them things happen because you know that what you’re doing is actually touching your peers.
There's some disagreement in reggae literature about who invented the “fast chat” style. What's your take on this?
It was a guy called Peter King. I think he was the one that actually done that first and then Papa Levi. That’s how it used to run around Saxon. If somebody came with something that was unique then everybody else that was around the sound would create a similar thing in their own style. So I think Peter King was more like the originator of that. He was the one that kind of stepped it up “me neat, me sweet, me know how fi do it.” He kind of took it up because we was just chatting on that more laid back kind of thing. I mean in Jamaica it was like U Roy and those guys were VERY laid back and then when Saxon mcs came along we took it up another level because we sped things up. But then Peter King actually came with that style and then Levi made it international with Mi God Mi King. So I think we were the ones that came with it first but Peter King was the originator of that chatting style.
And who was the first to chat in a UK accent?
Well that’s a bit more difficult because we were from England so it’s like us, as UK artists or UK deejays, we used to listen to Jamaica obviously. But we always had our own identity so to say that there’s one particular person is a bit of a difficult thing. Because Smiley had his style and he just decided to come up with the style called Cockney Translation, to show you the difference between how we would speak from somebody from the East End you know what I mean? But we used to have our own sayings and our own things that we used to see on tv “the man from Del Monte say ‘yes’, Saxon’s the best” or whatever. So I don’t know who was the first one really! (LAUGHS) It just kinda happened! Because you write about things what you see and that’s what we did around Saxon. Whatever was the thing that was going on. It was like the News At Ten around our sound because whatever was the issue or the main event at the time, whether it be Brixton riots or Deptford Fire, things that happened bad in the community or things that we wanted to laugh and joke about, we would write about it. It could be about whatever. It could be Rupert The Bear! I’ve got a lyric about Rupert The Bear: I don’t know how or why?!? Rupert The Bear was popular when we was growing up so that’s what we used to do.
What’s your best memory of the Saxon days?
(THINKS) Wow.. that’s a good question. Because there was so many dances you know? I suppose when we won the world clash? Saxon won the world clash in ’93 ’94? I think it was in Milton Keynes or somewhere like that and we won a big world clash so that was a good night and an enjoyable night. I think it would have to be that.
Tippa Irie
Last year you did a tune with Mungo’s Hifi. How did that happen?
Oh yeah! The guys up in Scotland. Basically they employed me to do some shows up in Scotland with them. So I went up there and did some shows in Glasgow I think and Edinburgh in a couple of venues with them and we got on very well. And they said “Tip, we’ve got this track and could you put something on it?” So I agreed and I did my Ruff Mi Tuff for them and they were cool man. That’s how it happens a lot of the time, they employ me to do a show and while I’m up there they say “we got this beat”. And we actually did a thing on Radio 1 on Ras Kwame’s show together with Top Cat and Tenor Fly and that was good and I haven’t heard from them since. But yeah, nice people. Had a good time up there and did something for them and they put it on their album.
You had chart success with Hello Darling. You’ve never been afraid of pop in your career.
Nah! It’s like I said: you do MUSIC. Because sometimes you want to “keep it real” as it were, but sometimes keeping it real don’t pay the bills. And it’s not like you were losing your self-respect because people actually do like Hello Darling. People from my culture and from the mainstream if you like, they do like the sound of it and like the vibe of it. It was actually a popular tune in Jamaica. So at the end of the day, for me, I just try to make music. What comes out comes out. Maybe I would have gone a lot further if I was more careful with my music or more controlled? But what I find is if somebody comes to me with an idea, and they’re paying me, I’ll write what I feel and give it to them. And if they love it and they’re happy I just say “go and do your thing”! I’ll leave them to get on with it and mix it and they do their thing and it goes out there. What I used to do is do a lot of different projects for different people and then out of all the projects I’d just put an album together. But my new album with the Far East Band is an album where I’ve kind of taken control of everything. Even though they sent me the tracks I actually sat and physically wrote the whole thing rather than doing a project for this person over here, this person over there, it’s a project that I’m physically doing with somebody you know? I think that’s why it may be my best work.
A lot of modern music coming out of Jamaica is very pop and some European reggae fans don’t get it. What do you think of modern Jamaican styles?
Well it depends because there’s different types of producers. There’s Don Corleon who makes some one drop and then he does the dancehall stuff that he makes with Sean Paul. Then there’s The Genius, Freddie McGregor’s son, that does this… I suppose you kind of call it dancehall music. And then you’ve got the more elder heads like Bobby Digital and Dave Kelly at Madhouse. Some of it I like, some of it I don’t like. Music is music, some of them are hits and some of them are not, some of it is good, some of it is not. It’s about opinions and in my opinion it’s good when you have the right artists. I like a lot of the stuff that Morgan Heritage and groups like that do, and some of it is neither here or there and I can take or leave. I like a lot of the stuff that Shaggy and them do, you know Big Yard, their label. I think they’re trying to do things that are not just the norm, like Bad Man Don’t Cry. The way they put those kind of things, I think they’re trying to reach the masses.
Are you bigger than reggae now?
(THINKS) Yeah. I would say that because I work with groups like Sublime, which are like big rock groups, and with Black Eyed Peas, all these kinds of hip-hop groups. But it’s not like “I’m bigger than reggae” - I just make music. My roots are from reggae so I will always do reggae because that’s my bread and butter. The majority of my work is from people that want me to perform on their sound systems. Ideally I’d like to be doing all the big festivals with my band (and I’ve done most of them over the years). But I just want to be able to rehearse with my own band, tour with my own band and my own set up so that I can give myself 100 percent how I’d want to. A lot of the time because of budgets, I have to make sacrifices and sometimes it affects my performance. Like the other day when I hurt my foot in Sardinia. I fly to Sardinia, send the guys there my music, and, then, when you get there, they’re not playing the music on the cassette that you sent them. And then you might have one day’s rehearsal and then the next day is the show. The rehearsal might be fine, but then, because it’s only one day, when it comes to the show, they don’t remember what you did in rehearsal, it’s not as tight, so your show’s affected. But unfortunately, because of the scale of the position that you’re in or the circumstances, you try to accommodate the promoter because they haven’t got the funds to fly me and my full band. I’m not huge like Beres Hammond. Beres can pull a certain amount of people so he can afford to have his band well rehearsed. But for a lot of the artists that’s downscale, it’s hard for us to do that. And sometimes it’s like you’re caught in the middle. I can stick it out and say “if I’m not getting this then I’m not doing nothing” but then you don’t get no work! So it’s not as straight forward as people think and sometimes the music suffers because of it. And you’re not feeling good within yourself because you know they’re not playing the music how it should be played. It’s not right but if you don’t do it sometimes then months go by and you don’t get no gigs and I gotta pay these bills! (LAUGHS) If you live in a nice house you have to pay for it! (LAUGHS)
Interview by Angus Taylor

Sumber : Reggae-News

Kamis, 29 September 2011

Shaggy Dog Usung Reggae ke Java Soulnation 2011

  • Shaggy Dog Usung Reggae ke Java Soulnation 2011Shaggy Dog Usung Reggae ke Java Soulnation 2011
Shaggydog menjadi warna lain di pesta musik urban, Java Soulnation Festival 2011 hari kedua, Sabtu (24/9). Musik Reggae yang menjadi aliran band asal Yogyakarta ini diusung di AHA Stage tepat pukul 23.00 WIB.
Musik 'Doggy Stylee' khas Shaggydog yang merupakan perpaduan antara beberapa unsur musik seperti ska, reggae, jazz, swing dan rock tercermin dalam beberapa buah lagu yang mereka bawakan, seperti From The Dog, Lagu Reggae dan Bersinarlah Kembali.
"Apa kabar kalian Jakarta, kami sangat senang bisa berada di sini. Kemarin 1 bulan di Perancis, baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Air," ucap Heru.
Shaggydog juga membawakan lagu Pressure Drop yang didedikasikan buat Joe Strummer, vokalis The Clash yang telah meninggal.
"Joe merupakan salah satu inspirator bagi kami. Rest In Peace," lanjut Heru.
Shaggydog adalah sebuah band yang terbentuk pada Tanggal 1 Juni 1997 di Sayidan, sebuah kampung yang terletak di pinggir sungai di tengah kota Yogjakarta. Band yang beranggotakan Heru, Richard, Raymond, Bandizt, Lilik dan Yoyo ini pun sukses merebut hati penonton yang tidak melihat performance LMFAO di panggung utama. (kpl/ato/ris)

Sumber : OMG YAHOO

Senin, 19 September 2011

Pa'ce Rasta

Aliran musik reggae yang berasal dari Jamaica cukup kental di telinga seluruh warga Papua. Setelah Black Brothers tahun 1970-an, Black Papas, Black Sweet asal Papua tidak ikut lagi di Industri Rekaman Nasional, di era tahun 2008 Pa’ce Rasta datang membawa suasana baru dengan mengeluarkan Album Reggae berjudul Red Yellow & Green. Indonesiapun banyak memilih musik genre ini, salah satu pelopor reggae di Indonesia juga yang berasal dari Papua tahun 1980 an yaitu Abresso, Ian Ch Gebze, Akon Bonay dkk. Grup musik ini yang selalu mengisi acara reggae night di Pasar Seni Ancol bahkan sampai keluar negeri.
Meski grup Pa’ce Rasta ini baru, tapi personil-personilnya gabungan dari pemain-pemain reggae yang sudah punya nama, antara lain terdiri dari Roy Putuhena /Bass (ex.Rastafara), Hadarsyah (drum), Conrad (vocal), Roby Wambrauw, Nursy. saat ini Pa’ce Rasta sedang promosi Album, promo ini sempat tertunda karena adanya pergantian vocalis. Berdasarkan pemantauan ternyata lagu-lagu Pa’ce Rasta mendapat sambutan di dalam maupun di luar kota bahkan lagu-lagu yang menjadi hits di masing-masing kota berbeda-beda artinya beda kota beda selera, seperti di Papua yang menjadi Hits adalah lagu Amsterdam kependekan atau istilah Ampera Terus Kedalam yang merujuk pada sebuah daerah “Bronx” di Papua, di Jakarta dan Malang yang jadi hits lagu berjudul Red Yellow & Green, di kota Kupang yang jadi hits adalah lagu Kupu-kupu Beracun.
Setelah Black Brothers dan Black Sweet, Pa`ce Rasta boleh dibilang band asal Indoesia Timur yang mencoba mempopulerkan musik reggae. Setelah 13 tahun merintis kembali ke industri rekaman Roy Putuhena berharap Album perdana ini dapat diterima pecinta musik Indonesia. Persipura bisa dikenal secara Nasional, Pa’ce Rasta yakin dapat dikenal di Industri Nasional.

Sumber : Radio BnR

Minggu, 18 September 2011

Tony Q: Hidup Saya untuk Reggae


JAKARTA - Musik reggae di Indonesia pasti identik dengan Tony Q. Musisi kelahiran Semarang, 50 tahun silam ini menyerahkan seluruh hidupnya untuk musik reggae.

"Sebenarnya, kalau memang kita suka bermusik dan tahu tujuan hidup kita dan senang melakukannnya tidak perlu ngoyo (memaksakan diri). Saya sudah menyerahkan hidup saya di reggae," ujar Tony saat berbincang dengan okezone di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta belum lama ini.

Tony memulai karier musik reggae sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Pada 1994, dia membentuk grup musik Rastafara yang cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu 'Rambut Gimbal' dan 'Gue Falling In Love'.

"Saat ini, usia saya sudah 50 tahun. Saya mulai berkarier tahun 1989 dan sudah punya delapan album hingga saat ini. Apa ya, saya selalu senang berada di sini," tandasnya.

Pelantun Republik Sulap ini mengaku senang dengan perkembangan musik reggae di Indonesia sekarang. Misinya terhadap musik reggae sebenarnya sederhana, hanya ingin menyebarkan rasa kasih sayang antar sesama.

"Saya berharap musik reggae sebagai syiar. Saya ingin menyampaikan kalau kita semua punya spirit. Saya ingin musik reggae terus ada karena saya ingin selalu buat orang senyum dan cinta damai," tekadnya.

Sumber : okezone.com

Sabtu, 17 September 2011

Cedric Myton

Angus Taylor meets Cedric Myton
The world of reggae has its share of mavericks and rebels. Some of them, namely Keith Hudson, Lee Scratch Perry and Vivian Jackson, enjoy a hallowed status among music fans outside the discipline that equals or surpasses their importance within. But one artist who deserves more recognition from both perspectives is the late “Prince” Lincoln “Saxman” Thompson, leader of the Rasses, whose approach proved ultimately a little too weird for almost everyone and died in relative obscurity in January 1999.
Thompson cut a series of daring yet genuine roots reggae LPs during the 1970 and 80s, notable for their experiments with African and disco rhythms and unremittingly positive humanitarian lyrics. These were delivered in his striking, unique voice that seemed to contain every colour in the musical rainbow. In 1980, while signed to the UK label Ballistic, he released Natural Wild, an ambitious concept album in collaboration with rock musician Joe Jackson. The record was a commercial failure and Lincoln’s career never recovered.
He would continue to create artistically triumphant music; absorbing dancehall influences on his album Roots Man Blues AKA Unite The World. Having gone into semi retirement he opened a food store, and even collaborated with UK rapper Rebel MC, before succumbing to cancer at the age of just 49.
To celebrate his birthday this month, and to commemorate the tenth anniversary of his death, I spoke with his friend and co founder of their first singing group The Tartans, Cedric Myton of the Congos. Thanks are due to Nicolas Maslowski of Makasound records and Ras Lawi for making this interview possible.

How did you first meet Lincoln?
When we started our group the Tartans. It was two of us start first. I myself and Devon Russell. And then we recruit another kid named Linbergh Lewis and Lincoln who was the youngest of all. Lincoln was going to Excelsior School at the time. He was still going to school when we recruit him in the group. This was 1964. End of 1964, beginning 1965. So we did our first single Dance All Night for Federal Records. The four of us - Lincoln Thompson and myself, Linbergh Lewis and Devon Russell.
How did you recruit him?
Well he was a brilliant singer as a young kid coming up. He used to sing and I like his tone of voice. And he was just a kid going to school and I thought “we could take him in”. But it was not my own decision. It was myself and Devon Russell. He [Lincoln] was a kid living up the street from us. He didn’t live far from us. All of us where just living in a circle right there in Cockburn Pen Kingston 11. So we all know each other you know?
What were your impressions of him?
He was a brilliant kid. Bright. He could play football very well. He could play cricket – all sport things. Had lots of girls. He was a nice kid. Nice kid.
How did he get his nickname Sax?
From the socks. He used to wear lots of red socks so we called him Johnny Red Socks! He just loved to wear them socks! (LAUGHS).

So, anyway, then we split with Federal. They didn’t give us enough justice. The single was a hit and they didn’t give us enough attention. We told Federal we like other man dispensation so we left Federal and go to Duke Reid. And we did Far Beyond The Sun and some other songs there.
What was it like working with Duke Reid?
He was worse than Federal I think! (LAUGHS) We jumped out of the frying pan and into the fire! (LAUGHS) What happened then was I myself and Devon Russell did some songs that we produced ourself. And I myself and Lincoln worked together. So when the group split I myself work along with Devon Russell, and I work along with Saxman also. So that’s when the Royal Rasses album started. But we still carried on with the Tartans work.
Why did Lincoln split from the group?
Well what happened was really creative. Creative stuff. I personally was working with both parties independently. We had some songs like Kingston 11 and Love The Way It Should Be and I sang on those recordings on the first album Humanity. That album was produced by I myself, Lincoln and Errol Thompson from JBC [Radio]. He was the man behind the scene there. He produced and also helped to finance the project. I was on the whole of that album but we [Lincoln and I] did some extra special songs also.
What was happening in your own career at the time?
Well Lincoln he get some money and he take it all for himself. So I said, “I’m just gonna start the Congos then”. So that is how the Congos created – out of that atmosphere. But there was no rivalry between my group and Lincoln’s. Just doing different things.
And how much did you stay in touch with Lincoln after that?
Well for a period of time I did run away to America. And Lincoln was all over the place. He was in England for a time. When the Humanity tour started in late ’76 he came for me but I couldn’t go because I was creating the Congos just then. But I did talk to him a few times and I saw him a few times before the tragedy came upon him.
What’s your favourite of his records he made after you worked together?
All of them. All of them. Anything he do – I love them. For he was a very clever kid.
What did you think of Natural Wild?
It was great. Fantastic. The kid was a talented kid. He come from a good school! (LAUGHS) If I had been along with him he would have done much better but that’s a part of life. It’s part of the story that needs to be told.
And how did you feel when you heard of his passing?
I feel it in my heart man. It pains my heart up to know man. I was the love of my life. He was like my son.
Finally, what’s your favourite memory of him?
I have much good memories of him. I have so much. From all over the world so many good times. One thing about him was he was a very good swimmer! Extremely good swimmer! When he’d go into the sea he’d swim waaaaaaaaaaaaaaaaaay out! Like a mile! He was a very very good swimmer! Clever kid. With a beautiful voice.
Thanks for answering my questions.
One love my brother.
Interview by Angus Taylor

Ras Muhammad

Ras Muhamad yang lahir di Jakarta hijrah mengikuti keluarganya ke New York City dan tinggal di sana dari tahun 1993 sampai Juli 2005. Perjalanan musikalnya sebagai seorang pemusik, penyanyi dan pengarang lagu yang menjadikannya sebagai solo-ist Reggae berawal sejak ia menjelang remaja, saat ia tinggal di daerah Queens, di kota dunia tersebut. Ras Muhamad pernah membentuk sebuah band rock pada saat di SLA, kemudian membentuk kelompok duet Rap/Hip Hop Duo bernama “Ronin” pada tahun pertama dia di Kolese.

Bagi Ras Muhammad musik Reggae membawa misi yang mulia,jiwa reggae adalah hembusan nafas perdamaian dan persatuan, kesetaraan umat manusia. Reggae menebarkan vibe positif/getaran -getaran positif dan menghindari yang negatif. Reggae adalah perjuangan dan juga bentuk ungkapan atau jeritan kaum papa terhadap ketimpangan sosial dan ketidak adilan.

Inspirasi lagu-lagu Ras Muhammad banyak mengambil dari kejadian-kejadian sehari-hari,lingkungan,keadaan sosial masyarakat kita dan juga pandangan dari berbagai tokoh/pemimpin dunia seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, King Selassie I, Bung Karno dan negarawan lainya.
Ras Muhammad sampai sejauh ini telah mengeluarkan dua buah album, album yang pertama berjudul "declaration of trurh",pada awal tahun 2005 sebanyak 10 lagu dan beredar di New York, (di Indonesia pernah ditawar Aksara Record untuk dicetak ulang,tetapi Ras Muhammad masih menahanya dulu). Dan album yang kedua berjudul "Reggae Ambasador" sebanyak 15 lagu pada bulan Januari 2007,secara indie dan diedarkan oleh Aksara Record.


Sejak tahun 2003, tahun-tahun terakhir Ras Muhamad di kota New York, merupakan periode formatif yang menentukan jenis musik . Karena Ras memperoleh kesempatan belajar dari musisi Reggae Jamaika yang tinggal di Brooklyn, New York, yang memutar piringan hitam/dubplates (vinyl) di Perusahaan Brooklyn Sound Systems. Masa-masa tersebut sangat influensial bagi pengembangan kemampuan style nya dalam menyanyi/nge-Deejay (sebutan nge-Rap dlm bhs slank Jamaika). Pembelajaran tersebut menghasilkan karya gue spt sekarang ini yang mencampurkan warna Tribal Riddims dari Dancehall Reggae, nafas tradisional Reggae musik serta pesan-pesan spiritualnya Ras Tafari. Catatan : Musik Reggae mempunyai empat Sub-Genre yaitu : - Roots : contohnya tembang2 yang dinyanyikan Bob Marley;- Dub : contohnya tembang2 yang dinyanyikan King Tubby,- Lovers Rock : contohnya tembang2 yang dinyanyikan oleh Gregory Isaacs;- Dancehall : contohnya Damian Marley, Sean Paul.

Sumber : Reggae Indonesia & World

Kembalinya Sang legendaris Reggae Indonesia

Masanies Muncul bersama " Gombale Bolong"
Lama tak terdengan namanya,tiba tiba muncul di Indonesia Reggae Fest ( IRF )
yang di gela BNR Production, di pekan raya Jakarta anggal 21 meni 2011 lalu
dia adalah Masanies,sang legendaris yang mengusung lagu lagu Reggae


di kalangan pencinta Reggae Indonesia, nama Masanies memang sudah tidak asing lagi.Itu sebabnya saat dia tampil di IRF,Masanies langsung di eluk elukan oleh ribuan pengunjung yang memadati PRJ. apa lagi sosok pria bertubuh jangkung dan berambut gimbal ini lama menghilang dari blantika musik Reggae Indonesia.

Menghilang bukan berari tak berkarya. buktinya, begitu muncul Masanies mengeluarkan album baru yang bercerita tentang kondisi rakyat papan bawah berjudul "Gombale Bolong" 
sudah menjadi ciri khasnya lagu Reggae yang ia ciptakan  lebih banyak menceritakan tentang kondisi masyarakat Indonesia. "bagaimana masyarakt kecil dapat menikmati pendidikan kalau pendidikan begitu mahal..nahh kalau rakyat kecil suah tak mampu mengecam pendidikan, bagaimana Indonesia ini 25 tahun ke depan. mau jadi apa"  
bagi pria kelahiran Yogyakarta 9 april 1953 ini, tidak adak kata berhenti untuk berkarya. dia selalu menyuarakan kehidupan rakyat kecil yang selalu tertindas akibat ulah para petinggi negeri ini yang lagi tidak berpihak kepada rakyat.

"jika Indonesia ini dikelolah dengan baik, rakyat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya pendidikan, rakyat bisa di gratisi oleh pemerintah. karena Indonesia kaya akan hasil bumi. tapi tragisnya semua itu tak dapat di nikmati oleh rakyat," jelasnya 
takhanya pendidikan saja menjadi inspirasi dia dalam membuat lagu, tapi masalah kesehatan,banjit dan kerusakan hutan serta keserakahan pejabat juga merupakan bahan baku utama untuk dia kritik lewat lagu. 
Menurutnya, sekaran sulit mencari pejabat yang peduli terhadapa persoalan yang melilit rakyat.Rakyat di biarkan melarat semantara pejabat seenaknya memperkaya diri.celakanya lagi pejabat itu seenaknya menggerogoti uang rakyat.
"Jika boleh jujur Negara kita ini sudah hancur lebur. pejaba asik dengan korupsinya sementara rakyat tak lagi mereka urus. inilah kondisi negara kita" paparnya
Carut marutnya negeri ini, bukan hanya pemerintahnya yang salah urus,tapi sistemnya juga mendukung terjadinya Korupsi. "nah kalau ini di biarkan terus, bangsa Indonesia ke depan hanya tinggal menunggu kehancuran" tegasnya

Minggu, 11 September 2011

Reggae Music Camp To Camp 37 Plus 8

camp to camp season 5 (18 septmbr 2011) Minggu
@lap. pertigaan CENTEX ciracas jaktim

with :
JAMICA
ABBY PLUS BROTHER

AND MORE .....

htm 5rb


Ras Muhamad:Mengibarkan Reggae Indonesia di Oslo

Photobucket
Duta Reggae Indonesia & Askari Kenya
Mengibarkan Reggae Indonesia di Norwegia.
Blessed Love & Greetings from Oslo.
Sudah sebulan saya, Duta Reggae Indonesia menjejaki kota Oslo,Norwegia. Berbaur & mempererat rasa solidaritas dengan insane Reggae Norwegia. Merupakan sesuatu kebanggan bila bias membawa warna musik Indonesia ke panggung internasional, sekaligus menghapuskan prasangka & anggapan kita bahwa karya putra-putri bangsa tak layak & lebih rendah dari karya kumpulan mancanegara. Demikan D.R.I. maju melangkah ke Eropa untuk menanamkan bendera Reggae Indonesia di dalam hati insan musik barat, salah satu langkah itu adalah menunjukkan bagaimana kita berkarya & juga menampilkan musik dari pula Jamaika dengan cara yang benar kepada public mancanegara.
Ada tiga jadwal panggung yang D.R.I. getarkan di Oslo
Royal Salute 11 September,2008
Dutty Wine 26 September , 2008
Ladies First 3 Okotober , 2008
Masing-masing jadwal mengesankan karena mereka punya ciri khas sendiri, Royal Salute mengusung tema ”Culture” & pergerakkan, sedangkan ”Dutty Wine” dengan tema Dancehall Reggae murni & ”Ladies First” lebih terasa sebagai acara keluarga besar Reggae Oslo. Kemanapun D.R.I. melangkah di kota Oslo, pin/bros merah putih tak pernah lepas baik di atas maupun di luar panggung.
Pada malam ”Royal Salute” saya & Ras Steven mengenakan batik untuk menampillkan suasana kediplomatisan & pertemuan Indonesia & Kenya di Norwegia. Ras Steven/Kasimba berteriak kepada penonton ”Big Up ! Ras Muhamad & Family for the Batik... sekarang aku bisa merasakan karisma Bung Nelson Mandela saat beliau mengenakan batik, aku merasa seperti orang yang terhormat, mejadi duta yang lazim !”
Memang ke dua pria berbatik malam itu di Royal Salute bukan duta-duta yang lazim tetapi masing-masing membawa warna Reggae negaranya. Ada satu bagian dimana kami melakukan improviasasi dengan penonto, Ras Steven menyanyi dengan bahasa Norsge (Norwegia) & saya menggunakan bahasa Indonesia & Inggris. Iapun langsung berseru kepada penonton “Wah, ini tak adil !!! Aku orang Kenya & Ras sudah menyanyi dengan bahasa Inggris & bahasa Indonesia…Kayaknya gak afdol kalau saya nggak nyany dengan bahasa Ibu saya, ini pertama kali Oslo Massive…bahasa Swahili dengan Reggae ! “ Seluruh penonton bersorak saat ia benar-benar menggunakan bahasa itu, apalagi ada sebagian penonton berasal dari Afrika.

Duta Reggae Indonesia & Askari Kenya


Showcase “Royal Salute” berjalan selama 1 setengah jam & kami mempersembahkan kurang lebih 20 lagu. Lagu-lagu baru D.R.I. seperti ‘Crisis’ & ‘Rebel Music’, disambut dengan semua orang dengan hangat & tak henti bergoyang. Sampai tembang terakhir “Leaving Babylon/Musik Reggae Ini” penonton ikut menyalakan api karena menyalakan korek bukanlah sesuatu hal yang asing & aneh di Reggae, sebenarnya ‘menyalakan api’ itu adalah tanda menunjukkan hormat kepada sang Reggae Deejay atau Selektah. ‘Menyalakan api’ juga menandai bahwa suasana mulai panas & vibe-vibe ‘Babylon’ telah dihanguskan di tempat dengan musik Reggae.
Photobucket
dari kiri : D.R.I. Ras Muhamad, Admiral P, Askari Kenya Ras Steven di Baronen



Photobucket
di depan entrance Ra, malam "Dutty Wine"




Photobucket
Reggae Indonesia maju !!!




Maka itu banyak artis Reggae sering bersorak “Fiya Burn !/Api membakar/menyala” contohnya Capleton yang suka menyebut ”More Fire/Tambah apinya!!!”, filosofi yang sempat saya jelaskan di verse 2 lagu ‘Runaway’ saya . Junior Maestro, Selektah G (Glenie) & Maikel Zito yang disebut segai Groundation Movement secara bersamaan, mereka telah melakukan session-session Reggae di Oslo sejak akhir tahun 90-an. Merupakan kehormatan sangat besar ketika D.R.I. didukung oleh mereka karena sudah cukup lama mereka tak membuat acara dengan kehadiran para personil dengan lengkap.
Kesimpulannya malam itu insan musik Norwegia sangat menghargai kedatangan artis dari timur & puji syukur bahwa acara tersebut sukses, saya berharap penampilan perdana D.R.I. mengesankan di perasaan & hati. Saya sungguh tidak mengira bahwa saya akan tampil 2 kali lagi di depan masyarakat Oslo, “Dutty Wine” & “Ladies First”
dalam waktu 2 minggu sehabis acara “Royal Salute”. Kedua jadwal tersebut membawa tema yang berbeda dari “Royal Salute” karena malam itu hanya menunjukkan musik Dancehall. Menurut saya acara semacam ini sama sekali tidak ada di Indonesia di mana ada club Indonesia memberi jadwal khusus untuk malam Dancehall Reggae, semua yang dating berdandan stylish…biasa seperti acara-acara dugem.
Photobucket
ekshibisi Dancehall oleh "Tabanka Crew"



Photobucket
Admiral P, Salut !!!




Photobucket
the Massive !!




Malam Dancehall intinya bukan mabuk-mabukkan atau mengkonsumsi barang yang tidak jelas tetapi intinya berdansa & bersoliasisasi. Ada sebagain yang adu ngedance & juga pamer gerakkan baru, menunjukkan bahwa Reggae punya gerakkan & cirri khas saat berdansa. Musik sensual sekaligus berkelas & bermakna, sampai saat ini saya yakin kalian belum tahu dansa Reggae sebelum melihat gadis berkulit gelap dari Jamaika & Afrika menggelai dalam irama Reggae.
Bayangkan gerakkan penari-penari latar Sean Paul, itulah Dancehall. Sangat sulit untuk diikuti & dipelajari, menurut saya “Dance” itu sama canggihnya dengan gerakkan street dance & break dance-nya Hip-Hop. Nama “Dutty Wine” pun adalah salah satu istilah goyangan “Dancehall” baru seperti “Signal the Plane”, “Row the Boat”, “Give dem a Run” & “Tunda Klap”. Artis Reggae yang paling tenar menggunakan istilah-istilah ini adalah Elephant Man.
Photobucket
Admiral bersama D.R.I.
Pada malam “Dutty Wine” juga menampilkan ekshibisi penari Dancehall di atas panggung, 15 menit & tim ini terdiri dari perempuan & laki-laki. Setelah pertunjukkan menari, artis Reggae Norwegia, Admiral P yang menjadi host “Dutty Wine” memanggil D.R.I. ke atas panggung, saatnya Asia Tenggara menunjukkan kemampuan Dancehall ke belahan dunia barat.


Admiral bersama D.R.I.
Photobucket
tetap batik walau di negeri asing




Photobucket
bussing up di dance !!!





Special guest for this evening, all the way from Indonesia.
Oslo, Please welcome Ras Muhamad !!!” soraknya Admiral P
Photobucket
Admiral P menyalakan api sekali lagi saat D.R.I. tampil di Baronen
D.R.I. membuka set malam itu dengan “Tuff Road”, walaupun malam itu bertema Dancehall saya ingin lebih menonjolkan warna Roots saya kepada masyarakat Norwegia, sebagai lagu penutup saya persembahkan “Hot like Fiya” & “Run Dat” 2 tembang Dancehall Reggae yang diciptakan asli di Indonesia.



Semua sukses memperkenalkan Reggae Indonesia di Norwegia, walaupun saya menciptakan karya-karya Dancehall Reggae bukan berarti saya seorang artis Hip-Hop; Dancehall asli & otentis, sub-genre yang berkembang di Jamaika sejak tahun 80-an. Bounty Killer, Ninjaman & Buju Banton mereka raja-raja Dancehall Reggae, mereka ini setenar Bob Marley karena mereka juga penggerak Reggae. Saat mereka sudah berkarir selama hamper 20 tahun, keadaan di Indonesia masih terpaku pada musik Bob Marley. Musik Reggae bukan hanya terperangkap pada cabikan gitar “encet-encet”.
Photobucket
Ladies first Baronen !
Musik Reggae berkembang serentak setiap saat, apa yang terjadi di Norwegia terjadi di negara-negara Eropa lainnya bahkan di benua Afrika, budaya Reggae itu rata & sama. Buktinya saat saya tampil banyak insan yang hadir berasal dari Somalia,Etiopia,Kenya & pulau-pulau Karibia seperti Trinidad, itu menunjukkan kalau Reggae di tanah air mereka serupa seperti di Norwegia.




Negeri kita punya potensi sangat tinggi untuk menggaungkan Reggae ke seluruh pelosok tanah air & kita mungkin bisa setara dengan Reggae Jepang. Dalam iklim pun musik Reggae sangat cocok dengan Indonesia, tantangan & isu-isu social tanah air serupa dengan negara-negara berkembang di Afrika & Karibia, Reggae itu musik yang sangat merakyat & membela yang tertindas. Lalu mengapa kita enggan menjabat saudara-saudari Reggae kita di mancanegara ? Atau kita hanya menantikan Bob Marley kembali dari akhirat??? Suatu hal yang mustahil, Bob Marley sudah membuka jalan agar artis-artis di Jamaika, Afrika, Asia & Eropa bisa terus berjuang & menggunakan Reggae untuk menumbangkan Babylon.
Berkembanglah Reggae Indonesia kita, itu sorakan yang selalu saya lemparkan untuk para musisi pergerakkan & peminatnya di tanah air.
Dari kota dingin Oslo,Norwegia
Jabat erat & bersama melangkah ke depan
Ras Muhamad
Duta Reggae Indonesia


Photobucket

Boss Deejay Ras Muhamad di depan mic

PROSA TINJU LIMA JARI” Music Video Ras Muhamad & Daddy T Indonesian Rice


Akhirnya kawan-kawan bisa menikmati video klip ini yang memang kita tahan-tahan untuk dipublikasi.  well, the wait is over.
silahkan menikmati video klip kami yang pertama.
Prosa Tinju Lima Jari,
disutradarai oleh Feri Yuniardo & Edwin.
ada appearance oleh Rebecca Reijman, Volland Volt, Bhismo Kunokini dll.
enjoy it massive! Bless !

Sumber : RasmuhammadRI










Rasta, Bung Karno dan Semangat Dasa Sila Bandung


BANYAK  yang bertanya, dari mana asalnya bendera itu, perpaduan warna merah-kuning-hijau yang selalu dikibarkan dalam konser reggae di seantero Tanah Air. Itu bendera Ethiopia. Tapi masih banyak juga yang keliru mengira itu bendera Jamaika, tempat musik reggae lahir.
Lalu apapula Rasta, yang di sini di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia berubah maknanya menjadi “persahabatan” atau bahkan menjadi nama lain dari ganja?
Terlalu banyak kelirumologi (pinjam istilah kelirumolog Jaya Suprana) dalam scene reggae di Tanah Air. Akibat tidak mengenali sejarah, akhirnya terjadi tuna acuan. Dalam buku Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi dijelaskan dengan terang bahwa Rasta atawa Rastafari adalah gerakan religius paling terkenal di Karibia. Gerakan ini berpengaruh terhadap kebudayaan dan kemasyarakatan Karibia.
Nama Rastafari, yang berasal dari kata Ras, yang merupakan gelar yang diberikan kepada kalangan Ningrat laki-laki di Ethiopia; dan Tafari, nama sebelum penobatan dari Yang Mulia Kaisar Haile Selassie dari Ethiopia (1898-1975).
Sellasie naik tahta tahun 1930. Ia menjadi penengah berbagai perang saudara yang melanda Afrika. Ia membantu perdamaian Nigeria. Pidatonya di PBB tentang kolonialisme Eropa di Afrika sangat terkenal.
Kemelaratan dan penyisihan di dalam kota Kingston memberikan jalan di awal 1930an bagi gerakan kekuatan kulit hitam melalui gerakan “kembali ke Afrika” yang dipopulerkan Marcus Garvey. Tahun 20-an, Marcus Garvey aktivis politik gerakan Black Christian meramalkan akan muncul seorang mesiah dari Afrika. Garvey, kelahiran St Anne Bay Jamaica adalah pendiri Universal Negro Improvement Association–sebuah organisasi yang menyerukan kebangkitan Afrika. Ia memandang Afrika adalah tanah yang teraniaya dan melihat Yesus akan bangkit dari
kalangan hitam.
Yesus adalah Black man of sorows dan Maria adalah Black Madonna. Berpegang secara literal pada Masmur 68:32 …Ethiopia bersegera mengulurkan tangannya kepada Allah ia percaya Mesiah akan muncul dari Ethiopia.
Marley percaya Sellasie adalah Mesiah yang dinubuatkan Garvey.
Saat Sellassie mengunjungi Jamaica April 1966, Marley makin yakin bahwa Sellasie penjelmaan Kristus. Lagu-lagu Marley sesungguhnya banyak dirembesi sikap ini. Lagu terkenalnya Exodus misalnya merefleksikan Mazmur 137 yang berbicara tentang tanah yang dijanjikan: Zion, Yerusalem. Bagi Marley Yerusalem sekarang adalah Ethiopia . Dan Babilonia kini adalah metafor kolonialis .
“..And Babylon kingdom must fall.. for all the European propaganda…
Selassie sendiri sesungguhnya tak menginginkan adanya pengkultusan dirinya. Ia mengirim Bishop Abuna Yasehaq ke Jamaica untuk mendirikan gereja dan mewartakan bahwa Jesus yang harus tetap diimani bukan dirinya. Tapi Bob Marley yang dekat dengan Yasehaq tetap menolak masuk gereja.
Dan lagu-lagu Marley tetap membawa kabar Ethiopia sebagai tanah harapan. Simbol cinta Tuhan kepada mereka yang teraniaya. Amsal penebusan, penyelamatan dunia ketiga. Simak Redemption Song terkenal itu :
“..emancipate yourselves from mental slavery..
How long shall they kill our prophet, while we stand aside and look
? … .
Atau lagu Jammin..
We’re jammin, no bullet can stop us now, Yeh!
Holy Mount Ziion, Jah sit in Mount Zion.
And Rules all creation
..
Kaisar Ethiophia Haile Sellasie, pujaan Marley ini hadir dalam Konfrensi Asia Afrika di Bandung pada 18 April 1955. Pada kesempatan itu, Bung Karno berpidato:
” …Orang sering mengatakan kepada kita, bahwa ‘kolonialisme sudah mati’.
Jangan kita mau tertipu atau ternina-bobokan olehnya! Saya berkata kepada Tuan-tuan, kolonialisme belumlah mati. Bagaimana kita dapat mengatakan ia sudah mati, selama daerah-daerah yang luas di Asia dan Afrika belum lagi merdeka!”
Dalam pidatonya yang bertajuk “Vivere Pericoloso” pada 17 Agustus 1964, pidato yang keras menentang neo-kolonialisme (nekolim), dan mengobarkan solidaritas Asia dan Afrika Bung Karno menyebut-nyebut Sellasie .,”Demikianlah maka Kaisar Haile Selassie bahu membahu dengan Medibo Keita dan Ben Bella, dengan Sekou Toure’ dengan Nkrumah dengan Jomo Kenyata…”


Fanpage ReggaeDepokRastamand

Comment From Facebook